Parameter Sukses
Seorang laki-laki memasuki dunia lain. Sedikit pun tak pernah tersirat ia akan berada di tempat ini. Bandara John F Kennedy. Ya, ini New York!
Ia melanjutkan perjalanannya dengan mobil. Melewati Manhattan, nafasnya tertahan sejenak: gedung-gedung menjulang, dan puncak Chrysler Building berkilau menyerupai berlian. Lalu Empire State Building pamer kemegahan. Juga Sungai Hudson, menyerupai menenggelamkan jiwanya.
Bronx, ia juga melewatinya. Sedikit menyurut dari kemewahan Manhattan, di sini lebih banyak kedai cepat saji, pemusik jalanan, dan kemudian lalang orang di subway station.
Lepas dari Bronx ia menapakkan kaki di Westchester. Kebetulan ketika itu sedang ekspresi dominan gugur. Daun hijau berubah menjadi keemasan, merah muda, merah tua, merah keemasan. Makin romantis dengan terpaan sinar matahari.
"Ini sambutan untuk saya, saya tidak sedang bermimpi," gumam Iwan Setyawan. Demikian nama lelaki ini.
Gagap Bahasa Inggris
Dari Batu, Malang, Iwan tiba ke New York untuk mewujudkan mimpi. Mimpi yang sangat sederhana: mempunyai kamar tidur sendiri di rumahnya.
Cita-citanya masa kecil sederhana sekali, ia ingin menjadi Hansip. Dulu itu pekerjaan yang mengagumkan untuknya. "Di lingkungan saya kecil dulu, nggak ada orang yang bekerja pakai seragam. Ya cuma Hansip itu yang pakai baju serba hijau, belt, sepatu. Itu canggih," ujarnya.
Ke New York, Iwan juga ingin membalas usaha keras orang tuanya, menyekolahkan hingga sekolah tinggi tinggi. Iwan memang tak besar di lingkungan cukup. Ayahnya sopir angkot, dan ibunya hanya di rumah, mendidik, dan membentuk hati anak-anaknya.
Keinginan membahagiakan keluarga begitu kuat, hingga alhasil ia berangkat mengisi posisi data processing di Nielsen Research New York yang merupakan perusahaan riset terkemuka asal Amerika. Sebenarnya, dari hati kecil ia tak ingin meninggalkan orang-orang dekatnya di tanah air. Bapak, ibu, kakak, dan adik.
Dari kecil lelaki kelahiran 2 Desember 1974 ini tak pernah jauh dari keluarga. Ia memang pernah pekerja di Jakarta, di perusahaan sama. Ia juga mencicipi kuliah di Bogor, tempatnya menimba ilmu statistik.
Tapi New York sangat jauh. Ia tak bisa pulang sewaktu-waktu ketika rindu menyerang. Ini sangat menyedihkan untuknya. Tiga bulan pertama di New York, Iwan tinggal bersama rekan yang sudah dianggap sebagai kakaknya, Mbak Ati. Ke mana pun ingin pergi laki-laki bertubuh kecil ini selalu ditemani. Kesedihan makin parah ketika Mbak Ati, sahabat satu-satunya ini tetapkan pindah ke Australia. Meninggalkan ia seorang diri di negara asing.
Iwan harus melaksanakan segala sesuatunya sendiri. Ia mulai berguru memasak, mengurus segala tagihan rekening listrik dan telepon sendirian. Dan terpaksa harus mencari sahabat baru. Masa pembiasaan ini sangat sulit. Sesulit pembiasaan dirinya pada pekerjaan, mengingat bahasa Inggris-nya juga tidak canggih.
"What? What did you say? Would you repeat again?" ceritanya setiap kali ia mencoba berbahasa Inggris. Saat bekerja, ia lebih banyak diam. Bukan sebab tak mau bergaul, tapi sebab ia tidak tahu bagaimana harus bicara.
Namun lelaki yang dipanggil Bayek semasa kecil ini tak mau jalan di tempat. Ia sudah kadung nyemplung ke dunia profesional, dunia yang sangat langka sebab tidak semua orang beruntung menyerupai dirinya. Ia kemudian memberanikan diri menyampaikan bahasa Inggris-nya di lingkungan kerja.
"Saya jadi banyak membaca, menonton TV. Pertama kali ngomong, orang sering banyak nggak ngerti. Ini orang aksennya lucu," ujarnya.
Berkarya di luar negeri bukan hanya soal kepiawaian berbahasa, tapi juga kemampuan. Ia sempat minder ketika kinerjanya dipertanyakan, mengingat ia hanya lulusan Indonesia. Institut Pertanian Bogor. Bukan dari sekolah popular di Amerika menyerupai kebanyakan rekannya.
Iwan menunjukan bahwa dirinya bisa bersaing. Ia bekerja lebih keras dibanding yang lain. Bekerja lebih usang dibandingkan yang lain. Dan menuntaskan lebih banyak pekerjaan dari yang seharusnya.
"Aku pikir, minder itu menutup kita untuk maju. Kaprikornus buat apa minder? Lawan terus, usaha, banyak belajar. Aku coba untuk menantang diriku sendiri. Semakin diremehkan, semakin saya mau nunjukkan saya bisa. Setiap dikasih pekerjaan ABC saya mengerjakannya ABCD. Jam kerjaku seharusnya delapan jam, tapi saya bekerja sepuluh jam," bebernya.
Kerja kerasnya menerima apresiasi. Iwan yang mengaku penakut ini meraih penghargaan Employee of the Month di bulan keempat dan kedelapan dirinya bekerja.
Sendiri Itu Sulit
New York memang kota mewah, tapi Iwan tak lantas menjadi glamour. Ia tetap orang Batu yang sederhana. Ia menyampaikan biaya hidup di sana sangat tinggi. "Aku sering beli lauk di luar terus masak nasi di rumah. Atau bikin rendang, kan bisa buat beberapa hari," ujarnya.
Soal makanan, Iwan juga sempat melewati kesulitan mengakrabi pasta dan pizza. Lidahnya tetap sambal terasi. Ia memutari kota mencari toko yang menjual bumbu rempah, menciptakan sambal untuk sahabat makan sehari-hari.
Pada VIVAlife Iwan yang gemar menebar senyum ini menceritakan bagaimana ia melewati hari-harinya sendiri. Saat murung ia hanya bisa mengungkapkan perasaannya lewat tulisan. Setiap hari ia menelepon keluarganya di Batu. Menceritakan hal apapun kepada ibunya.
Iwan juga mulai menekuni yoga. Awalnya ia memang tak tertarik dengan yoga, menurutnya yoga hanyalah aktivitas untuk perempuan. Sampai alhasil ia menemukan khasiat yoga. Obat ampuh untuk menyembuhkan kesedihan, kesendirian, dan mengusir kesepiannya.
Lelaki yang hobi bertualang ini juga menceritakan bencana paling tragis ketika ia tinggal di Westchester. Meski tempat ini terbilang paling kondusif di New York, tapi justru di sinilah ia babak belur. Pipinya biru terkena pukulan. Badannya berkeringat dingin, gemetar. Iwan dirampok sesaat sehabis ia ke luar dari ATM.
"Saya nggak ngelawan, nangis-nangis iya," ujar laki-laki yang mengaku tidak pernah berkelahi seumur hidupnya ini. Namun bencana itu tidak lantas membuatnya mengalah dan pulang. Iwan tetap bertahan demi mencapai apa yang ia inginkan.
Mencintai New York
Lambat laun pembiasaan dirinya makin mulus. Ia bahkan betah tinggal di negeri yang tak pernah tidur ini. Meski rasa rindu untuk pulang kerap menyelinap. Iwan sudah bisa menikmati New York.
New York yang sempat mencengangkannya ketika pertama kali menginjakkan kaki. "Noraknya tuh pas saya tahu, oh passport tuh kayak gini, bandara John F Kennedy tuh gini ya, gini toh rasanya naik pesawat," ungkapnya mengenang.
Pulang kerja, ia berjalan melewati pertokoan. Sekadar membuang penat atau malah berbelanja. Iwan jadi lebih mengenal fesyen. Ia sadar penampilan menjadi kebutuhan, bukan hanya cuilan gaya hidup.
Dikatakannya, orang-orang di sekeliling turut memberi pengaruh. "Saya merasa jadi suka baca buku, liat orang-orang baca buku di taman, di bus, di kafe. Saya juga liat fesyen orang-orang, cara mereka berpakaian."
Iwan menemukan energinya. Energi yang bisa membuatnya menaiki karier lebih tinggi bahkan menjadi sangat hebat. Ia menerima promosi menjadi Senior Data Processing Executive. Lalu Manager Data Processing Executive, Senior Manager Operations, dan alhasil sebagai Director Internal Client Management. Anak buahnya tak hanya di kantor tapi tersebar di New York, Chicago, San Fransisco, dan India. Ini bukan posisi main-main.
Membingkai kisah dalam tulisan
Pada 2011 Iwan kembali ke Indonesia. Ia tetapkan pulang sehabis menghabiskan 9 ekspresi dominan panas dan 10 ekspresi dominan gugur di New York. Keinginannya mempunyai kamar sendiri di rumahnya juga sudah kesampaian.
Baginya New York sudah mengubah hidupnya sangat banyak. Saatnya ia kembali dan menata hidupnya yang baru.
Belum usang menikmati kemerdekaannya berkumpul bersama keluarga di Batu, Malang, Iwan menerima proposal untuk bekerja di Singapura. Sebagai Director Marketing Science di perusahaan marketing research multinasional yang mengawasi enam negara di Asia Tenggara. Gaji yang diberikan jauh lebih besar dari yang ia terima di New York. Tapi ia menolak.
Alasannya sederhana, ia ingin melaksanakan sesuatu untuk keluarganya. Membingkai perjalanan hidupnya, usaha orangtuanya, dan kenangan bersama abang adiknya dalam sebuah buku. Iwan menjadi penulis.
"Keponakan-keponakan saya itu tahunya, om nya sudah pernah jadi direktur, kakeknya bukan lagi sopir angkot. Keluarga saya juga tidak pernah punya foto keluarga, jadi saya membuatkan potret keluarga lewat tulisan."
Selama enam bulan di Batu ia menuntaskan 9 Summers 10 Autumns, novel pertama sebagai hadiah untuk bapak. "Saya nggak bisa nulis jika nggak di Batu, tempat ibu saya ini bikin saya tenang," ujarnya. Enam bulan itu pula ia mengenang masa lalunya.
Bagaimana dulu ia merengek minta sepatu gres sebab sepatunya sudah jebol. Bagaimana sesaknya rumah berukuran 6 x 7 meter yang dulu ditinggali bapak, ibuk, dan lima anaknya.
Bagaimana ia harus menyebarkan sepiring nasi goreng dengan dua telur ceplok sebagai sarapan istimewa keluarga. Bagaimana sang bapak harus menjual angkot, satu-satunya mesin penghasil uang keluarga demi ia bisa kuliah. Bagaimana bapak harus menjadi sopir truk untuk tetap mengepulkan dapur. Hingga perjalanan kariernya di New York selama 10 tahun.
Tak sedikit air mata yang keluar ketika ia merangkai kata. "Terkadang kesibukan itu bikin kita lupa penilaian diri. Dengan menulis, saya jadi mengerti benar masa laluku," ungkap lelaki berambut kelimis ini.
9 Summers 10 Autumns menjadi nasional best seller. Bertengger juga dalam daftar 10 besar Katulistiwa Literary Award, ajang penghargaan karya sastra terbaik di nusantara. Menyabet penghargaan sebagai Buku Terbaik Jakarta Book Award 2011, dan dicetak dalan versi Inggris berjudul 9 Summers 10 Autumns From the City of Apples to The Big Apple.
Novel ini juga sudah difilm-kan dengan judul sama, dan segera meluncur di bioskop 25 April mendatang. Ia juga sudah menelurkan novel kedua berjudul Ibuk. Novel yang kali ini ia dedikasikan untuk sang ibu tercinta.
Namun pencapaian-pencapaian ini tak lantas mengubah hidup dan kebiasaan keluarganya. "Ibu saya masih suka nyuruh saya ngepel. Saya suka bilang gini, 'Bu, saya nih penulis populer loh'," kelakarnya.
Setelah dua novelnya terbit, Iwan yang sekarang mendirikan perusahaan data analis mulai sering berkelana keliling Indonesia. Perjalanan backpack-nya memakai bus, kereta api, angkot, pesawat, ojek, bajaj, becak, dan perahu. Ia menerima seruan untuk menceritakan kisah hidupnya, membagikan semangatnya.
Hati kecilnya menjalankan dengan senang hati. Ia tak pernah lelah. Tujuannya mencari dua tiga anak sopir angkot untuk bisa menyerupai dirinya. Ia ingin semua orang melebihi dirinya, meski hambatan selalu ada di depan mata.
"Kalau mau maju, berbuat lebih dari orang lain, bekerja lebih dari orang lain. Jangan hanya sesuai job desc," ujarnya.
Dari kisah tersebut sanggup disimpulkan bahwa parameter sukses bukanlah jabatan atau uang namun parameter sukses ialah orang lain, bagaimana kita bisa menciptakan orang lain lebih baik, bermanfaat bagi orang lain dengan menyebarkan kebaikan, menyerupai judul blog ini yaitu bidik misi menyebarkan kebaikan.
Kisah ditulis oleh : Wuri Handayani, Marlina Irdayanti
posted by : Dairul f
Sumber http://balazdy.blogspot.com/
Ia melanjutkan perjalanannya dengan mobil. Melewati Manhattan, nafasnya tertahan sejenak: gedung-gedung menjulang, dan puncak Chrysler Building berkilau menyerupai berlian. Lalu Empire State Building pamer kemegahan. Juga Sungai Hudson, menyerupai menenggelamkan jiwanya.
Bronx, ia juga melewatinya. Sedikit menyurut dari kemewahan Manhattan, di sini lebih banyak kedai cepat saji, pemusik jalanan, dan kemudian lalang orang di subway station.
Lepas dari Bronx ia menapakkan kaki di Westchester. Kebetulan ketika itu sedang ekspresi dominan gugur. Daun hijau berubah menjadi keemasan, merah muda, merah tua, merah keemasan. Makin romantis dengan terpaan sinar matahari.
"Ini sambutan untuk saya, saya tidak sedang bermimpi," gumam Iwan Setyawan. Demikian nama lelaki ini.
Gagap Bahasa Inggris
Dari Batu, Malang, Iwan tiba ke New York untuk mewujudkan mimpi. Mimpi yang sangat sederhana: mempunyai kamar tidur sendiri di rumahnya.
Cita-citanya masa kecil sederhana sekali, ia ingin menjadi Hansip. Dulu itu pekerjaan yang mengagumkan untuknya. "Di lingkungan saya kecil dulu, nggak ada orang yang bekerja pakai seragam. Ya cuma Hansip itu yang pakai baju serba hijau, belt, sepatu. Itu canggih," ujarnya.
Ke New York, Iwan juga ingin membalas usaha keras orang tuanya, menyekolahkan hingga sekolah tinggi tinggi. Iwan memang tak besar di lingkungan cukup. Ayahnya sopir angkot, dan ibunya hanya di rumah, mendidik, dan membentuk hati anak-anaknya.
Keinginan membahagiakan keluarga begitu kuat, hingga alhasil ia berangkat mengisi posisi data processing di Nielsen Research New York yang merupakan perusahaan riset terkemuka asal Amerika. Sebenarnya, dari hati kecil ia tak ingin meninggalkan orang-orang dekatnya di tanah air. Bapak, ibu, kakak, dan adik.
Dari kecil lelaki kelahiran 2 Desember 1974 ini tak pernah jauh dari keluarga. Ia memang pernah pekerja di Jakarta, di perusahaan sama. Ia juga mencicipi kuliah di Bogor, tempatnya menimba ilmu statistik.
Tapi New York sangat jauh. Ia tak bisa pulang sewaktu-waktu ketika rindu menyerang. Ini sangat menyedihkan untuknya. Tiga bulan pertama di New York, Iwan tinggal bersama rekan yang sudah dianggap sebagai kakaknya, Mbak Ati. Ke mana pun ingin pergi laki-laki bertubuh kecil ini selalu ditemani. Kesedihan makin parah ketika Mbak Ati, sahabat satu-satunya ini tetapkan pindah ke Australia. Meninggalkan ia seorang diri di negara asing.
Iwan harus melaksanakan segala sesuatunya sendiri. Ia mulai berguru memasak, mengurus segala tagihan rekening listrik dan telepon sendirian. Dan terpaksa harus mencari sahabat baru. Masa pembiasaan ini sangat sulit. Sesulit pembiasaan dirinya pada pekerjaan, mengingat bahasa Inggris-nya juga tidak canggih.
"What? What did you say? Would you repeat again?" ceritanya setiap kali ia mencoba berbahasa Inggris. Saat bekerja, ia lebih banyak diam. Bukan sebab tak mau bergaul, tapi sebab ia tidak tahu bagaimana harus bicara.
Namun lelaki yang dipanggil Bayek semasa kecil ini tak mau jalan di tempat. Ia sudah kadung nyemplung ke dunia profesional, dunia yang sangat langka sebab tidak semua orang beruntung menyerupai dirinya. Ia kemudian memberanikan diri menyampaikan bahasa Inggris-nya di lingkungan kerja.
"Saya jadi banyak membaca, menonton TV. Pertama kali ngomong, orang sering banyak nggak ngerti. Ini orang aksennya lucu," ujarnya.
Berkarya di luar negeri bukan hanya soal kepiawaian berbahasa, tapi juga kemampuan. Ia sempat minder ketika kinerjanya dipertanyakan, mengingat ia hanya lulusan Indonesia. Institut Pertanian Bogor. Bukan dari sekolah popular di Amerika menyerupai kebanyakan rekannya.
Iwan menunjukan bahwa dirinya bisa bersaing. Ia bekerja lebih keras dibanding yang lain. Bekerja lebih usang dibandingkan yang lain. Dan menuntaskan lebih banyak pekerjaan dari yang seharusnya.
"Aku pikir, minder itu menutup kita untuk maju. Kaprikornus buat apa minder? Lawan terus, usaha, banyak belajar. Aku coba untuk menantang diriku sendiri. Semakin diremehkan, semakin saya mau nunjukkan saya bisa. Setiap dikasih pekerjaan ABC saya mengerjakannya ABCD. Jam kerjaku seharusnya delapan jam, tapi saya bekerja sepuluh jam," bebernya.
Kerja kerasnya menerima apresiasi. Iwan yang mengaku penakut ini meraih penghargaan Employee of the Month di bulan keempat dan kedelapan dirinya bekerja.
Sendiri Itu Sulit
New York memang kota mewah, tapi Iwan tak lantas menjadi glamour. Ia tetap orang Batu yang sederhana. Ia menyampaikan biaya hidup di sana sangat tinggi. "Aku sering beli lauk di luar terus masak nasi di rumah. Atau bikin rendang, kan bisa buat beberapa hari," ujarnya.
Soal makanan, Iwan juga sempat melewati kesulitan mengakrabi pasta dan pizza. Lidahnya tetap sambal terasi. Ia memutari kota mencari toko yang menjual bumbu rempah, menciptakan sambal untuk sahabat makan sehari-hari.
Pada VIVAlife Iwan yang gemar menebar senyum ini menceritakan bagaimana ia melewati hari-harinya sendiri. Saat murung ia hanya bisa mengungkapkan perasaannya lewat tulisan. Setiap hari ia menelepon keluarganya di Batu. Menceritakan hal apapun kepada ibunya.
Iwan juga mulai menekuni yoga. Awalnya ia memang tak tertarik dengan yoga, menurutnya yoga hanyalah aktivitas untuk perempuan. Sampai alhasil ia menemukan khasiat yoga. Obat ampuh untuk menyembuhkan kesedihan, kesendirian, dan mengusir kesepiannya.
Lelaki yang hobi bertualang ini juga menceritakan bencana paling tragis ketika ia tinggal di Westchester. Meski tempat ini terbilang paling kondusif di New York, tapi justru di sinilah ia babak belur. Pipinya biru terkena pukulan. Badannya berkeringat dingin, gemetar. Iwan dirampok sesaat sehabis ia ke luar dari ATM.
"Saya nggak ngelawan, nangis-nangis iya," ujar laki-laki yang mengaku tidak pernah berkelahi seumur hidupnya ini. Namun bencana itu tidak lantas membuatnya mengalah dan pulang. Iwan tetap bertahan demi mencapai apa yang ia inginkan.
Ia masih terus membahagiakan keluarganya, lebih dan lebih. Setiap bulan atau bahkan sebulan dua kali ia mentransfer sebagian honor dan bonusnya untuk keluarga lewat sang ibu. Wanita yang selama ini menjadi 'menteri keuangan' keluarga.
Mencintai New York
Lambat laun pembiasaan dirinya makin mulus. Ia bahkan betah tinggal di negeri yang tak pernah tidur ini. Meski rasa rindu untuk pulang kerap menyelinap. Iwan sudah bisa menikmati New York.
New York yang sempat mencengangkannya ketika pertama kali menginjakkan kaki. "Noraknya tuh pas saya tahu, oh passport tuh kayak gini, bandara John F Kennedy tuh gini ya, gini toh rasanya naik pesawat," ungkapnya mengenang.
Pulang kerja, ia berjalan melewati pertokoan. Sekadar membuang penat atau malah berbelanja. Iwan jadi lebih mengenal fesyen. Ia sadar penampilan menjadi kebutuhan, bukan hanya cuilan gaya hidup.
Dikatakannya, orang-orang di sekeliling turut memberi pengaruh. "Saya merasa jadi suka baca buku, liat orang-orang baca buku di taman, di bus, di kafe. Saya juga liat fesyen orang-orang, cara mereka berpakaian."
Iwan menemukan energinya. Energi yang bisa membuatnya menaiki karier lebih tinggi bahkan menjadi sangat hebat. Ia menerima promosi menjadi Senior Data Processing Executive. Lalu Manager Data Processing Executive, Senior Manager Operations, dan alhasil sebagai Director Internal Client Management. Anak buahnya tak hanya di kantor tapi tersebar di New York, Chicago, San Fransisco, dan India. Ini bukan posisi main-main.
Membingkai kisah dalam tulisan
Pada 2011 Iwan kembali ke Indonesia. Ia tetapkan pulang sehabis menghabiskan 9 ekspresi dominan panas dan 10 ekspresi dominan gugur di New York. Keinginannya mempunyai kamar sendiri di rumahnya juga sudah kesampaian.
Baginya New York sudah mengubah hidupnya sangat banyak. Saatnya ia kembali dan menata hidupnya yang baru.
Belum usang menikmati kemerdekaannya berkumpul bersama keluarga di Batu, Malang, Iwan menerima proposal untuk bekerja di Singapura. Sebagai Director Marketing Science di perusahaan marketing research multinasional yang mengawasi enam negara di Asia Tenggara. Gaji yang diberikan jauh lebih besar dari yang ia terima di New York. Tapi ia menolak.
Alasannya sederhana, ia ingin melaksanakan sesuatu untuk keluarganya. Membingkai perjalanan hidupnya, usaha orangtuanya, dan kenangan bersama abang adiknya dalam sebuah buku. Iwan menjadi penulis.
"Keponakan-keponakan saya itu tahunya, om nya sudah pernah jadi direktur, kakeknya bukan lagi sopir angkot. Keluarga saya juga tidak pernah punya foto keluarga, jadi saya membuatkan potret keluarga lewat tulisan."
Selama enam bulan di Batu ia menuntaskan 9 Summers 10 Autumns, novel pertama sebagai hadiah untuk bapak. "Saya nggak bisa nulis jika nggak di Batu, tempat ibu saya ini bikin saya tenang," ujarnya. Enam bulan itu pula ia mengenang masa lalunya.
Bagaimana dulu ia merengek minta sepatu gres sebab sepatunya sudah jebol. Bagaimana sesaknya rumah berukuran 6 x 7 meter yang dulu ditinggali bapak, ibuk, dan lima anaknya.
Bagaimana ia harus menyebarkan sepiring nasi goreng dengan dua telur ceplok sebagai sarapan istimewa keluarga. Bagaimana sang bapak harus menjual angkot, satu-satunya mesin penghasil uang keluarga demi ia bisa kuliah. Bagaimana bapak harus menjadi sopir truk untuk tetap mengepulkan dapur. Hingga perjalanan kariernya di New York selama 10 tahun.
Tak sedikit air mata yang keluar ketika ia merangkai kata. "Terkadang kesibukan itu bikin kita lupa penilaian diri. Dengan menulis, saya jadi mengerti benar masa laluku," ungkap lelaki berambut kelimis ini.
9 Summers 10 Autumns menjadi nasional best seller. Bertengger juga dalam daftar 10 besar Katulistiwa Literary Award, ajang penghargaan karya sastra terbaik di nusantara. Menyabet penghargaan sebagai Buku Terbaik Jakarta Book Award 2011, dan dicetak dalan versi Inggris berjudul 9 Summers 10 Autumns From the City of Apples to The Big Apple.
Novel ini juga sudah difilm-kan dengan judul sama, dan segera meluncur di bioskop 25 April mendatang. Ia juga sudah menelurkan novel kedua berjudul Ibuk. Novel yang kali ini ia dedikasikan untuk sang ibu tercinta.
Namun pencapaian-pencapaian ini tak lantas mengubah hidup dan kebiasaan keluarganya. "Ibu saya masih suka nyuruh saya ngepel. Saya suka bilang gini, 'Bu, saya nih penulis populer loh'," kelakarnya.
Setelah dua novelnya terbit, Iwan yang sekarang mendirikan perusahaan data analis mulai sering berkelana keliling Indonesia. Perjalanan backpack-nya memakai bus, kereta api, angkot, pesawat, ojek, bajaj, becak, dan perahu. Ia menerima seruan untuk menceritakan kisah hidupnya, membagikan semangatnya.
Hati kecilnya menjalankan dengan senang hati. Ia tak pernah lelah. Tujuannya mencari dua tiga anak sopir angkot untuk bisa menyerupai dirinya. Ia ingin semua orang melebihi dirinya, meski hambatan selalu ada di depan mata.
"Kalau mau maju, berbuat lebih dari orang lain, bekerja lebih dari orang lain. Jangan hanya sesuai job desc," ujarnya.
Dari kisah tersebut sanggup disimpulkan bahwa parameter sukses bukanlah jabatan atau uang namun parameter sukses ialah orang lain, bagaimana kita bisa menciptakan orang lain lebih baik, bermanfaat bagi orang lain dengan menyebarkan kebaikan, menyerupai judul blog ini yaitu bidik misi menyebarkan kebaikan.
Kisah ditulis oleh : Wuri Handayani, Marlina Irdayanti
posted by : Dairul f
Sumber http://balazdy.blogspot.com/